Hujan turun dari tadi sore. Bukan yang deras banget sampai bikin banjir, tapi cukup untuk bikin jalanan berubah jadi lebih lambat. Lampu kendaraan memantul di aspal basah, orang-orang berlarian kecil sambil nutup kepala pakai tas atau jaket, dan kota mendadak terasa lebih sepi dari biasanya.

Aku duduk sendiri di halte bus dekat perempatan itu. Tempat yang sebenarnya nggak spesial sama sekali. Cat besinya mulai pudar, iklan di samping halte setengah sobek, dan lampunya kadang berkedip kayak lagi capek hidup juga.

Jam di layar HP menunjukkan pukul 19.42.

Entah kenapa aku belum pengen pulang.

Mungkin karena di umur segini, pulang nggak selalu berarti sampai rumah.

Kadang cuma berarti kembali ke kamar, rebahan, lalu besok mengulang hari yang sama.

Di depan aku, seorang bapak ojek online sedang membuka plastik jas hujan sambil menghela napas panjang. Di sebelah kiri, ada anak SMA ketawa-ketawa kecil sambil rebutan headset. Semua orang terlihat punya tujuan masing-masing.

Dan aku iri sama itu.

Beberapa bulan terakhir, hidup aku terasa kayak nunggu bus yang nggak jelas datang kapan. Jalan terus, iya. Hidup juga masih. Tapi rasanya kayak nggak benar-benar bergerak ke mana-mana.

Kerja, pulang, tidur.

Ulang lagi.

Kadang aku buka Instagram dan melihat teman-teman lama mulai menikah, pindah negara, buka usaha, atau minimal terlihat bahagia. Sementara aku masih duduk di halte, di bawah hujan, sambil mikir:

“Sebenernya aku lagi nunggu apa, sih?”

Lalu dia datang.

Perempuan dengan hoodie abu-abu dan totebag hitam lusuh. Rambutnya sedikit basah kena hujan. Dia berdiri nggak jauh dari aku, sambil sesekali mengusap embun di kaca halte pakai jarinya.

Kami nggak ngobrol.

Bahkan nggak saling lihat terlalu lama.

Tapi aneh ya, kadang kehadiran seseorang bisa bikin dunia yang tadinya terasa berat… mendadak sedikit lebih ringan.

Bus yang dia tunggu datang lebih dulu.

Sebelum naik, dia sempat melihat ke arah jalan yang gelap lalu bilang pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke aku:

“Hujan tuh kadang bikin kota terasa lebih jujur ya.”

Setelah itu pintu bus tertutup.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku nggak buru-buru membuka HP untuk mengusir sepi.