Malam itu aku belum bisa tidur.
Bukan karena ada sesuatu yang terlalu menyedihkan.
Atau karena hidup sedang benar-benar hancur.
Aku cuma merasa… penuh.
Seperti ada terlalu banyak hal di kepala, tapi semuanya datang bersamaan sampai akhirnya berubah jadi diam.
Aku berdiri cukup lama di balkon apartemen sambil melihat kota dari atas. Angin malam terasa dingin, dan dari kejauhan lampu-lampu gedung masih menyala seperti bintang yang lupa pulang.
Lucu ya.
Di kota sebesar ini, ternyata banyak orang belum tidur.
Ada yang masih lembur.
Ada yang lagi bertengkar lewat telepon.
Ada yang menangis diam-diam di kamar mandi supaya tidak terdengar siapa-siapa.
Ada yang sedang jatuh cinta.
Ada juga yang cuma duduk sendirian sambil bertanya:
“Hidup bakal gini-gini aja ya?”
Dan mungkin malam itu, aku bagian dari yang terakhir.
Aku melihat satu jendela apartemen di gedung seberang yang lampunya belum mati dari tadi.
Entah siapa orang di dalamnya.
Tapi anehnya, melihat lampu itu membuat aku merasa sedikit ditemani.
Kadang manusia memang sesederhana itu.
Kita tidak selalu butuh percakapan panjang.
Kadang cukup tahu kalau di luar sana ada orang lain yang juga sedang berusaha bertahan melewati malamnya sendiri.
Waktu kecil aku kira dewasa berarti menjadi seseorang yang benar-benar mengerti hidup.
Sekarang aku tahu… sebagian besar orang dewasa cuma pandai terlihat tenang.
Padahal diam-diam sama bingungnya.
Sama takutnya.
Sama capeknya.
Malam makin larut.
Suara kendaraan mulai berkurang. Langit berubah semakin gelap, dan satu per satu lampu apartemen mulai padam perlahan.
Tapi jendela itu masih menyala.
Dan untuk beberapa menit, aku terus memandanginya sambil membayangkan:
mungkin di sana ada seseorang yang juga sedang mencoba berdamai dengan hidupnya malam ini.
Lalu tiba-tiba aku merasa tidak terlalu sendirian lagi.
Karena mungkin memang begitu cara manusia bertahan.
Bukan dengan selalu bahagia.
Tapi dengan saling menjadi tanda kecil bahwa:
“Aku juga masih di sini.”
— Myra Senja