Aku baru sadar ayah mulai menua dari hal kecil.

Bukan dari rambut putihnya.

Bukan juga dari wajahnya yang sekarang lebih sering terlihat lelah.

Tapi dari caranya memanggil aku dua kali karena suara pertama sudah tidak terlalu keras.

Dulu waktu kecil, aku selalu merasa ayah tahu semuanya.

Tahu jalan pulang.
Tahu cara memperbaiki barang rusak.
Tahu bagaimana menghadapi hidup.

Ayah terlihat seperti manusia yang tidak mungkin kalah oleh apa pun.

Lalu waktu berjalan diam-diam.

Dan tanpa benar-benar sadar, aku mulai melihat ayah tertidur di sofa sebelum jam sembilan malam. Mulai meminta bantuan membaca tulisan kecil di layar HP. Mulai mengeluh lututnya sakit saat naik tangga.

Hal-hal yang dulu terasa tidak mungkin terjadi.

Kadang aku kangen ayah yang dulu.

Yang motornya selalu paling cepat waktu menjemput aku sekolah saat hujan. Yang diam-diam bangun pagi cuma buat memastikan aku nggak telat berangkat. Yang selalu bilang:

“Udah, biar ayah aja.”

Padahal sekarang aku mulai sadar… mungkin waktu itu ayah juga capek.

Tapi orang tua memang aneh ya.

Mereka jarang cerita kalau sedang lelah.

Malam ini aku melihat ayah tertidur di kursi sambil televisi masih menyala. Tangannya tetap menggenggam remote seperti orang yang terlalu lelah bahkan untuk mematikannya.

Dan entah kenapa dadaku terasa sesak.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, aku sadar:

orang yang selama ini aku anggap paling kuat… ternyata juga bisa menua.

Dan waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapa-siapa.